SEJARAH HITAM IMF

Desember 21, 2008 at 3:51 am 3 komentar

sejarah-imfBerbicara soal utang negeri ini, yang segera teringat oleh pikiran kita adalah lembaga rente internasional seperti International Monetary Fund (IMF), Bank Dunia, ataupun Asian Development Bank (ADB). Persoalan utang luar negeri ini pun akan segera membawa ingatan kita pada deretan angka berjumlah sekitar US$ 150 miliar, yang merupakan total utang luar negeri Indonesia, baik swasta dan publik. Kisah keterlibatan lembaga-lembaga keuangan internasional tersebut (IMF BD, ADB) sangat erat hubungannya dengan carut-marutnya perekonomian negeri ini serta perekonomian negara-negara pengutang lainnya di Asia dan Amerika Latin.

Wabah krisis ekonomi 1997 yang berawal di Thailand mendorong dipercayanya IMF sebagai ‘dewa penolong’ yang dapat menciptakan stabilitas finansial. Suntikan dana terus dilakukan untuk menyehatkan negara-negara Asia, terutama Thailand, Korea selatan, dan tak ketinggalan Indonesia. Begitu pula di Amerika Latin; wabah krisis ekonomi bermula di Meksiko, terus di ikuti Argentina, Brazil, Venezuela, dan Meksiko. Ketika krisis Meksiko merebak ke negara-negara tetangganya, orang menyebutnya dengan istilah Teguila effect. Ketika krisis di Thailand menyebar ke negara-negara di sekitarnya, orang menyebutnya dengan istilah Tom Yam effect (nama sejenis sup Thailand yang terkenal itu).

Pemulihan ekonomi yang didambakan itu ternyata tidak kunjung tiba. Yang terjadi justru malah lilitan utang yang berlipat dan badai krisis multidimensi pun tak terbendung lagi. Hal inilah yg membuat negara-negara yang kena wabah yang sangat akut itu merasa perlu untuk meninjau kembali efektivitas program-program IMF yang tengah mereka jalani, yang akhirnya berujung pada penghentian program bantuan keuangan dan kerjasama dengan IMF. Tampaknya, daya hipnotis IMF terhadap akal sehat telah sirna.

Stop Ketergantungan!

Akhirnya, Indonesia menjatuhkan “talak tiga” kepada IMF dengan mengakhiri kontrak utang dengan lembaga rente internasional itu. Jadi, tahun 2004 mendatang sudah dipastikan mereka akan mengusung brankasnya keluar dari Indonesia setelah lima tahun ini mendikte proses pemulihan ekonomi Indonesia. Keputusan itu berarti, bahwa mulai tahun 2004, Pemerintah tidak akan menandatangani lagi Letter of Intent (LoI) dengan IMF, termasuk hubungannya dengan CGI di Paris.

Apa yang kita peroleh selama lima tahun di bawah kendali IMF? Yang ada adalah keputusan IMF yang kontraproduktif, pencabutan subsidi BBM yg menyebabkan harga melambung tinggi, inflasi melonjak, dan munculnya berbagai aksi demonstrasi. Liberalisasi perdagangan juga telah mengakibatkan membanjirnya barang-barang impor dan hancurnya industri dalam negeri yang di paksa masuk dalam pasar bebas tanpa persiapan. Kebijakan suku bunga (riba) tinggi mengakibatkan melonjaknya kredit macet dan negative spread perbankan sehingga mengakibat sektor real macet. Salah satu kebijakan yg dinilai sangat mematikan adalah likuidasi terhadap 16 bank yang mengakibatkan rontoknya sektor perbankan, ribuan orang di PHK, kepercayaan masyarakat anjlok, terjadi rush, dan akhirnya BI terpaksa mencetak uang untuk menyelamatkan bank. Jumlah uang beredar jadi membengkak sehingga mengakibatkan hiperinflasi yang sempat mencapai 80%-90% pertahun.

Selama lima tahun, Indonesia harus melaksanakan resep IMF yg berisi 130 program dalam Letter of Intent (LoI) mencakup moneter, perbankan, sektor real, hingga penjualan aset negara. Menurut ekonom dari UGM, Revrisond Bawsir, hal itu menjadikan upaya pemulihan ekonomi menjadi tidak fokus. Bahkan ia menduga, program-program IMF tersebut sekitar 85%-nya merupakan titipan dari Amerika Serikat dan negara-negara anggota G-7. Namun, sangat disayangkan, sejauh ini evaluasi terhadap kinerja IMF di Indonesia masih di seputar persoalan kepiawaian IMF. Sementara itu, mengenai siapa IMF, untuk kepentingan siapa ia bekerja, dan apa implikasi pelaksanaan agenda-agenda IMF terhadap masa depan perekonomian suatu negara, belum begitu mendapat perhatian.

Potret Kegagalan IMF

IMF adalah dokter spesialis amputasi. Setelah melakukan amputasi kepada pasiennya, kemudian biayanya dibebankan kepada si pasien. Data empirik menunjukkan bahwa tingkat keberhasilan (success rate) IMF di banyak negara kurang dari 30%. Itu pun hanya negara-negara yg relatif kecil atau masih pada tahap awal dari proses pembangunan ekonomi. Untuk negara-negara pengutang besar, nyaris tak terdengar cerita keberhasilan dari program IMF; yang ada justru penyakit kambuhan (repeated patients). Hasil penelitian Johnson dan Schaefer (1997) sejak tahun 1965-1995 menunjukkan, bahwa perekonomian 48 dari 89 negara berkembang yang menerima bantuan IMF tidak menjadi lebih maju. Bahkan, 32 dari 48 negara tersebut justru menjadi lebih miskin. IMF malah menimbulkan krisis berkepanjangan (roller coaster), padahal negeri-negeri tersebut telah menjadi pasien IMF selama puluhan tahun.

Secara umum, bukti atas kegagalan IMF adalah di Mexico yang pada tahun 1994 mengalami krisis lebih parah setelah krisis yg pertama 1982. Mexico akhirnya menyatakan tidak sanggup membayar utangnya. Brasil, negara-negara Asia tahun 1997, Turki tahun 1999 dan 2001, dan Argentina yang selama sepuluh tahun menjadi pasien IMF, akhirnya kandas tidak bisa membayar tepat waktu sebagian dari total utangnya, yakni sebesar US$ 141 miliar.

Di Indonesia, potret kegagalan IMF dari segi menciptakan kesempatan kerja baru, misalnya, tampak nyata. Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang cuma 3.66% pada tahun 2002 itu hanya mampu menciptakan kesempatan kerja baru dan menyerap sekitar 1,7 juta dari angkatan kerja baru yang masuk pasar sekitar 2,5 juta orang. Ini berarti, setiap tahun masih ada tambahan pengangguran baru sekitar 800,000 orang. Keadaan ini menjadi serius dengan pengangguran terbuka sekitar 9 juta dan yang setengah menganggur mencapai 39 juta orang.

Faktor kegagalan IMF di Indonesia sejak keterlibatannya pada Oktober 1997 s.d. 2002 dapat digambarkan sebagai berikut:

Pertama, IMF selalu memaksakan pengetatan fiskal dan moneter jika suatu negara mengalami krisis ekonomi. Pengetatan fiskal tersebut dipaksakan kepada negara berkembang agar ada surplus untuk membayar beban peningkatan utang. Padahal, masing-masing negara memiliki struktur ekonomi dan kompleksitas masalah yang berbeda. Akibatnya, kondisi ekonomi yang sudah memburuk malah semakin terpuruk akibat kebijakan pengetatan fiskal dan moneter yang dianjurkan IMF, terutama pada awal krisis.

Kedua, pendekatan dengan penambahan beban utang untuk mendukung posisi neraca pembayaran hanyalah perbaikan yg bersifat semu, tidak real, karena bukan hasil peningkatan aliran modal swasta maupun peningkatan ekspor netto. Karena terus-menerus melakukan pinjaman untuk meningkatkan neraca pembayaran, beban utang meningkat berlipat menjadi Rp 650 triliun (US$ 72 miliar).

Ketiga, prasyarat dan rekomendasi kebijakan IMF dalam berbagai Letter of Intent lebih banyak mencakup bidang di luar makroekonomi dan moneter seperti perbankan, pertanian, corporate restructuring, dan industri. Rekomendasi IMF untuk menutup 16 bank pada November 1997 telah menciptakan destabilisasi finansial dan punahnya kepercayaan masyarakat. Akibatnya, ekonomi Indonesia mengalami hard landing, kebangkrutan massal, dan jutaan orang di PHK.

Siapa IMF?

IMF dan Bank Dunia adalah lembaga keuangan internasional yang didirikan oleh negara-negara Barat, pemenang Perang Dunia II. Keduanya lahir dari sebuah pertemuan yang bernama Konferensi tentang Sistem Moneter dan Keuangan di kota Breton Woods, New Hampshire, Amerika Serikat, pada tahun 1944. Berdirinya lembaga keuangan tersebut bertujuan untuk memulihkan perekonomian bagi negara-negara Eropa Barat yang hancur akibat perang. Lembaga itu kemudian berkembang menjadi lembaga multilateral yang konon diharapkan mendorong terciptanya kerjasama keuangan internasional, mendorong ekspansi dan pertumbuhan perdagangan internasional yang berimbang, mendorong kestabilan nilai tukar, membantu terciptanya sistem pembayaran internasional, mengusahakan tersedianya likuiditas sementara bagi yang mengalami masalah neraca pembayaran, dan menghilangkan kesenjangan neraca pembayaran negara-negara anggotanya.

IMF, sejak berdirinya tanggal 27 Desember 1945, yang pendiriannya ditandatangani oleh 29 negara, hingga kini jumlah anggotanya mencapai 183 negara merdeka. Akan tetapi, proses pengambilan keputusan di tubuh IMF tak ubahnya seperti proses pengambilan keputusan dalam sebuah perusahaan. Sesuai dengan ketentuan yang berlaku, proses pengambilan keputusan di IMF dilakukan berdasarkan jumlah kepemilikan saham, yaitu dengan ketentuan 85% suara setuju. Padahal, negara-negara G-7 saja yang terdiri dari AS, Inggris, Jepang, Kanada, Jerman, Prancis, dan Italia menguasai 45% suara. Dengan demikian, negara-negara kaya ini praktis mendominasi seluruh proses pengambilan keputusan dalam IMF. Yang lebih celaka, ternyata AS adalah pemegang saham utama dengan menguasai 18% suara. Jadi, praktis tidak ada keputusan yg dapat diambil tanpa persetujuan AS. Dengan demikian, bagaimana mungkin IMF bekerja tidak untuk kepentingan negara-negara G-7 itu?! Demikianlah sebagaimana dominasi mereka di berbagai pertemuan lembaga-lembaga keuangan atau perdagangan internasional lainnya seperti WTO, Bank Dunia, CGI, dan bahkan Paris Club. Ironisnya, yang berada di balik negara-negara G-7 itu adalah perusahaan-perusahaan Transnasional Company (TNC). Delegasi negara-negara G-7 hampir selalu berangkat dengan membawa seabreg titipan dari TNC negara mereka masing-masing. Dengan demikian, program ekonomi IMF sesungguhnya tidak lebih dari agenda terselubung para TNC itu. Itu artinya, target dari pelaksanaan program ekonomi IMF terhadap para pasiennya yang kekurangan gizi (negara berkembang) menjadi mudah ditebak. Terlepas dari keberhasilan atau kegagalannya dalam “memulihkan” perekonomian sebuah negara, pelaksanaan program ekonomi IMF dapat dipastikan akan berakibat pada menguatnya dominasi TNC terhadap perekonomian negara-negara yang menjadi pasiennya itu.

Oleh karena itu, kepentingan G-7 dan para TNC tersebut dituangkan ke dalam program ekonomi IMF dalam berbagai penekanan, seperti pada:

(1)Pengetatan anggaran negara untuk menjamin kelancaran pembayaran utang;

(2)Liberalisasi sektor keuangan untuk memberi keleluasan kepada para pemodal internasional untuk datang dan pergi sesuka hati mereka;

(3)Liberalisasi sektor perdagangan untuk mempermudah penetrasi produk negara-negara industri maju;

(4)Privatisasi BUMN untuk memperlemah interfensi negara dan memperkuat dominasi TNC di negara-negara yang bersangkutan dengan harga murah.

Jadi, kegagalan utama IMF yang sesungguhnya bukan terletak pada kinerja “pemulihan” ekonominya, melainkan pada jatidirinya sebagai agen kepentingan TNC.

Pelaksanaan program ekonomi IMF yang didominasi oleh kepentingan negara G-7 menyebabkan terjadinya pelembagaan suatu sistem kolonialisme baru, dikorbankannya kepentingan rakyat untuk menyelamatkan para bankir, meningkatnya komersialisasi pelayanan publik, meluasnya pengangguran, merosotnya upah buruh, melebarnya kesenjangan kaya-miskin, dan semakin komplikasinya krisis ekonomi. Oleh karena itu, mudah dimengerti kalau Joseph Stiglitz menyebut program privatisasi yang dipaksakan IMF itu sebagai briberization (rampokisasi).

Menuju Ekonomi Babak Baru

Kegagalan IMF di atas berbuah kritikan yang justru datang dari akademisi dan politisi Amerika, negeri tempat IMF dilahirkan. Contohnya adalah Prof. Alan Melteer dari Universitas Carnegie Mellon, Prof. John B. Taylor dari Universitas Stanford, Prof. Krugman dari IMT, Prof. Jeffrey Sachs dari Columbia University dan pemenang Nobel Ekonomi tahun 2001. Menurut mereka, kegagalan IMF terletak pada metodologi dan cara penanganan. Jerome Sgard, ekonom Prancis, menuduh kebijakan IMF—yang memaksa negara berkembang meliberalisasikan pasar dan membuka sektor keuangan—justru membuat negara-negara itu semakin rapuh terhadap volatilitas ekonomi dunia. Prof. Joseph Stiglitz, profesor ekonomi di Columbia University (AS), yang juga pernah menjabat sebagai Ketua Dewan Penasihat Ekonomi pemerintahan Bill Clinton (1993-1997), dan ekonom utama di Bank Dunia (1997-2000), dalam bukunya, Globalization and Its Discontents, menyatakan bahwa IMF dan lembaga donor internasional lainnya lebih mengutamakan kepentingan orang-orang yang bercokol di Wall Street dan elit di Washington ketimbang kepentingan negara-negara miskin yg dibantunya. Dia juga menuduh IMF tetap menggunakan pendekatan teori ekonomi yang sudah usang. Majalah Forbes di AS pernah mengulas bahwa resep IMF di Meksiko, Argentina, Thailand, dan Indonesia justru semakin memperburuk krisis ekonomi. Kongres AS yang dipimpin Prof. Alan Meltzer dari Universitas Carnegie Mellon telah mengevaluasi kinerja IMF dan berkesimpulan agar IMF direformasi. Bahkan Prof. John B. Taylor dari Universitas Stanford, dalam salah satu bukunya, mengusulkan agar IMF dibubarkan saja.

Penutup

Siapa saja yang ingin berpikir sedikit lebih mendalam saja, ia akan mampu menarik kesimpulan dari gambaran di atas, bahwa sudah waktunya kita menentukan jalan menuju pemulihan ekonomi sebagai babak baru perekonomian dengan mengambil sistem ekonomi yang sudah disediakan Allah Swt., Zat yang telah menciptakan dunia beserta kehidupannya ini. Sistem Ilahi inilah yang hakiki, realistis, dan sesuai dengan fitrah manusia; kita tinggal melaksanakannya saja. Hanya dengan sistem ekonomi Islam sajalah cita-cita umat akan dapat diraih dan hanya dengan kesungguhan kita sajalah aturan Allah Swt. itu akan dapat terlaksana. Allah Swt. berfirman:

]وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى ءَامَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ[

Sekiranya penduduk negeri-negeri itu beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu sehingga kami menyiksa mereka disebabkan perbuatan mereka. (QS al-A‘raf [7]: 96).

Mestinya ayat al-Quran di atas sudah cukup untuk memotivasi kita dalam mewujudkan cita-cita yang kita dambakan—jika kita tidak mau disebut orang yang tidak berakal! Wallâhu a‘lam bi ash-shawâb. []

Iklan

Entry filed under: EKONOMI.

MENYOAL OPSI STRATEGI PASCA IMF PACARAN? PIKIR LAGI DEH !!!

3 Komentar Add your own

  • 1. kikijuki  |  Desember 31, 2008 pukul 3:02 am

    thax artikelnya, buat tambahan referensi tugas salah satu mata kuliah

  • 2. deni oknaryanto  |  Januari 23, 2009 pukul 10:29 am

    anda harus mementingkan kepentingan umum dari pada pribadi. . . .. . . .ok!

  • 3. embun  |  Maret 27, 2009 pukul 3:34 am

    jazakallah khair.. saya njuga butuh to bahan referensi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


JUNDULLAH 1924

mujahid
batang

Kategori

Desember 2008
S S R K J S M
    Jan »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Titian Wahyu :

titian-wahyu-4

Blog Stats

  • 19,471 hits

RSS INFO DARI HTI

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

PENDAPAT ANDA

BENDERA ISLAM (ar-Rayya)

arroya-berkibar-2
naruto-arroya2
naruto-arroya-61
naruto-arroya-5
nar-pin1
con-pin1a
pin-last-samurai-arroya
sas-pin3a

%d blogger menyukai ini: