POTRET WANITA SHALIHAH

Desember 21, 2008 at 3:15 am 3 komentar

muslimah-cantikKetakwaan seseorang diukur dengan keterikatannya atau ketaatannya pada aturan Allah Sang Pencipta. Wujud nyata orang bertakwa adalah senantiasa melakukan perintah Allah dan menghindari apa saja yang dilarang-Nya dengan didasari oleh keimanan, bukan semata karena kebiasaan ataupun keterpaksaan. Orang yang bertakwa sering pula disebut laki-laki shalih atau perempuan shalihah.

Peluang meraih derajat takwa bukan hanya diberikan kepada laki-laki saja. Seorang Muslimah juga berkesempatan untuk menggapainya, dengan syarat, ia mampu melekatkan ciri-ciri orang bertakwa pada dirinya, yakni senantiasa menstandarisasi perbuatannya dengan aturan Allah Swt. Andai hal tersebut terpenuhi, layaklah Ia mendapat geiar perempuan shalihah.
Gelar perempuan shalihah tentu menjadi dambaan setiap Muslimah untuk meraihnya. Demikian pula setiap laki-laki Muslim; pasti berkeinginan memiliki istri yang shalihah,
karena sebaik-baiknya perhiasan dunia adalah perempuan shalihah. Hal yang penting diketahui oleh setiap Muslimah yang berkeinginan menjadi perempuan shalihah adalah: siapa perempuan shalihah itu?Apa pula yang harus dilakukan untuk meraihnya?

Menuju Perempuan Shalihah
Banyak nash menyebutkan tentang ciri- ciri perempuan shalihah. Di antaranya firman Allah Swt dalam al-Quran surat an-Nisa ayat 34:
Perempuan yang shalihah adalah yang menaati Allah dan memelihara diri ketika suaminya tidak ada karena Allah telah memelihara mereka. (QS an-Nisa’ [4]: 34).

Dalam beberapa hadis Rasulullah saw., tersirat bahwa ada tiga karakter perempuan shalihah:
Pertama, menaati Allah dan suaminya. Abu Hurairah menuturkan bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda:
Seandainya aku boleh memerintahkan seseorang bersujud kepada orang lain, aku pasti akan memerintahkan kepada perempuan untuk bersujud kepada suaminya. (HR at-Turmudzi).

Seorang perempuan shalihah akan berusaha untuk menaati seluruh perintah suaminya selama tidak bertentangan dengan aturan Allah Swt. Untuk meraih keridhaan suami tercinta, ía akan rela menundukkan semua kepentingan lain, termasuk kepentingan dirinya sendiri, karena dia yakin, bahwa ada kemuliaan yang akan diraihnya, yaitu ridha Allah Swt. Ketaatan pada suami tidak dilakukan karena keterpaksaan, bukan pula untuk menghinakan dirinya, tetapi semata dalam rangka beribadah kepada Allah.

Kedua, berhias untuk suaminya. Ketika Rasulullah saw. ditanya, perempuan manakah yang paling baik?” Beliau menjawab:
Khazanah yang paling baik bagi seorang laki-laki (suami) adalah perempuan yang shalih; jika suami memandangnya, ia menyenangkan suaminya; jika suami memerintahnya, ía menaatinya; jika suaminya tak ada di sisinya, ia memelihara dirinya. (HR Abu Dawud).
Perempuan shalihah adalah perempuan yang senantiasa menjaga dirinya dan bisa menyenangkan suaminya.

Ketiga, memelihara rumah, diri, anak-anak, dan harta suaminya. Kewajiban utama seorang perempuan adalah menjadi umm dan rabbah al-bayt (sebagai ibu dan pengatur rumah tangga). Hal ini didasarkan pada hadis dari Ibn ‘Umar. Disebutkan bahwa Nabi saw. pernah bersabda:
Seorang laki-laki adalah pemimpin keluarganya; ia bertanggung jawab atas yang dipimpinnya. Seorang perempuan (istri) adalah pemimpin (pengurus) rumah suaminya dan anak-anaknya; ia bertanggung jawab atas yang dipimpinnya. (HR al-Bukhari dan Muslim).

Perempuan shalihah menyadari bahwa terselenggaranya urusan rumah tangga adalah amanah dari Allah. Dia akan menjalaninya dengan penuh tanggung jawab; sekalipun boleh jadi sangat berat, menguras tenaga dan pikiran, juga kadang menimbulkan perasaan bosan dan jenuh. Baginya, keluarga adalah yang pertama dan utama; tidak mungkin terlalaikan oleh urusan lain.
Itulah gambaran ringkas kehidupan perempuan shalihah. Aktivitas-aktivitas itu merupakan amal yang paling mendasar yang tidak dapat ditawar-tawar dan yang harus dipahami oleh kaum perempuan jika memang mereka menghendaki keridhaan Allah SM. dan ingin memperoleh martabat sebagai perempuan shalihah.
Meskipun demikian, bagi kaum perempuan, syariat Islam juga menyediakan ruang yang leluasa untuk berkiprah di dalam aktivitas lain yang memang juga diwajibkan atau dibolehkan bagi mereka menjalaninya. Aktivitas-aktivitas ini bertumpu pada kewajiban umum yang menimpa setiap Muslim, baik laki-laki ataupun perempuan. Contohnya adalah menuntut ilmu, mengemban dakwah, amar makruf nahi munkar, dan lain-lain.

Kiprah Perempuan
Seorang Muslim yang menjadikan Islam sebagai ideologi, bukan sebatas keyakinan, akan memiliki kesadaran bahwa keadaan sekarang harus diubah menjadi kehidupan yang Islami. Aturan Islam harus diterapkan dalam setiap tatanan kehidupan; baik dalam kehidupan pribadi, dalam kehidupan masyarakat, maupun dalam kehidupan bernegara. Setiap Muslim harus memahami pula bahwa perubahan tersebut hanya akan terjadi bila ada pihak yang melakukan perubahan atau terdapat orang yang mendakwahkan Islam. Dakwah yang benar akan memiliki satu tujuan, yaitu menanamkan pemahaman Islam yang benar kepada masyarakat. Pemahaman inilah yang akan mendorong orang-orang yang tersentuh dakwah untuk menyebarkan Islam di tengah-tengah umat. Tatkala pemikiran Islam sudah menjadi opini umum dan umat sudah menyatu dengan Islam, secara alami, umat akan menuntut diadakan perubahan ke arah penegakkan sistem Islam. Pemikiran, perasaan, dan aturan yang berlaku adalah berasal dari Islam. Dakwah merupakan tanggung jawab dan kewajiban setiap Muslim. Semua orang yang mengaku Muslim terseru dengan kewajiban ini, baik laki-laki maupun perempuan.
Kesamaan kewajiban dakwah antara laki-laki dan perempuan adalah disebabkan karena bentuk seruan nash, baik al-Quran maupun al-Hadits, bersifat umum: meliputi keduanya. Salah satu contoh adalah, firman Allah Swt. berikut:
Hendaklah ada di antara kalian (laki-laki dan perempuan) segolongan umat yang menyerukan Kebaikan (Islam), mengajak pada yang makruf, dan mencegah yang munkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS Ali- Imran [3]: 104).

Dengan mencermati ayat di atas, jelaslah bahwa untuk menjadi perempuan shalihah dapat disempurnakan dengan aktivitas mengemban dakwah dan sejenisnya. Selain tinjauan hukum, ada urgensi lain yang menuntut kontribusi perempuan shalihah dalam aktivitas dakwah, yaitu:
Pertama, peranannya yang besar dalam mendidik anak-anaknya di rumah secara tidak langsung mencetak generasi penerus bangsa. Penting dilakukan pembinaan terhadap para perempuan (ibu dan calon ibu) agar mereka mampu menunaikan tugas pendidikannya dengan benar, yaitu pendidikan yang islami, dalam rangka mencetak generasi quruni dan mujahid yang siap memperjuangkan tegaknya Islam dalam kehidupan. Dengan demikian, pendidikan yang ditanamkan perempuan shalihah bukan hanya sekadar transfer ilmu, memiliki target melahirkan individu-individu berkepribadian Islam dan berkontribusi dalam proses kebangkitan umat menuju kehidupan islami. Pembinaan tersebut hanya mungkin dilakukan oleh mahram-nya atau oleh perempuan lain yang lebih dulu memiliki pemahaman Islam. Orang yang paling dekat dengan perempuan adalah suami atau mahram-nya. Akan tetapi, banyak fakta menunjukkan, bahwa orang-orang tersebut tidak memiliki banyak kesempatan untuk membina langsung isterlnya. Berbagai faktor menjadi penyebabnya. Salah satunya karena kesibukan atau karena hambatan psikologis; kurang konsentrasi jika berhadapan dengan orang yang paling dikenalnya. Dalam kondisi seperti ini, peran perempuan shalihah dalam membina perempuan lain semakin urgen.
Kedua, mayoritas Muslimah dewasa ini didominasi oleh pemikiran-pemikiran kapitalis dan lemah dalam pemahaman Islam. Banyak Muslimah yang tidak sadar turut mempropagandakan pemikiran dan kebiasaan tidak islami, juga berperan dalam menghancurkan Islam. Salah satu contoh, mereka bangga mengusung ajaran kebebasan dan ikut memperjuangan paham kesetaraan jender (emansipasi). Mereka rame-rame menuntut diadakan reaktualisasi fikih Islam karena dipandang sudah tidak relevan dan cenderung bias jender. Dalam hal budaya pun, sudah merebak kebiasaan-kebiasaan tidak islami di kalangan Muslimah, seperti perilaku konsumeris, materialistis, dan sikap oportunis. Kalau keadaan ini dibiarkan tanpa ada upaya penyadaran, kehancuran generasi menjadi suatu keniscayaan. Sebab, para perempuan tiang negara, pencetak kader penegak Islam, terus disibukkan oleh kesenangan materi dan lupa akan tanggung jawabnya. Mereka pun bisa menjadi duri penghalang bagi aktivitas suami dalam membela Islam. Mereka akan menuntut para suami agar melakukan pekerjaan yang mendatangkan materi; agar setiap keinginannya terpenuhi. Sikap qona’ah dan rela berkorban demi keridhaan Allah boleh jadi tidak ada. Dengan demikian, melakukan pembinaan di tengah-tengah mereka adalah suatu keharusan. Yang paling mungkin untuk melakukannya adalah para perempuan Muslimah.

Keterpaduan Peranan
Agar seorang Muslimah dapat melaksanakan kewajiban-kewajiban syariat yang dibebankan kepadanya, baik selaku umm dan rabbah aI-bayt (ibu dan pengatur/ pengelola rumah tangga), maupun sebagai seorang Muslim, terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan:
1. Pemahaman yang utuh tentang hukum-hukum yang berkaitan dengan aktivitasnya sebagai umm dan rabbah al-bayt, serta sebagai seorang Muslimah. Sebab, semuanya adalah taklif dari Allah Swt.


2. Pengaturan waktu dan menerapkan konsep prioritas (asas awlawiyat). Waktu yang dimiliki setiap Muslimah dalam sehari adalah sama, yaitu 24 jam. Namun, aktivitas dan nilai yang diraih dalam sehari boleh jadi berlainan. Seorang Muslimah yang menyadari bahwa tugas dan kewajibannya tidak sedikit akan berusaha keras mengatur waktunya dengan tepat dan cermat. Dia tidak akan banyak melakukan sesuatu yang sia-sia dan tidak penting. Berleha-leha dengan hal-hal yang mubah tidak menjadi pilihannya. Kadang-kadang terjadi benturan antara dua kewajiban atau lebih. Pada saat itu, Muslimah penting menetapkan skala prioritas; mana yang harus didahulukan, dan mana yang dapat ditunda pelaksanaannya. Tolok ukur penetapan skala prioritas bukanlah ditentukan oleh akal dan perasaannya sendiri, atau suaminya sekalipun, melainkan ditentukan oleh wahyu (al-Quran dan as-Sunnah). Apabila nash-nash telah menetapkannya, siapapun, baik perempuan atau pun laki-laki, harus tunduk dan patuh pada perintah tersebut. Semuanya didasari dengan sikap tawakal sehingga tidak akan muncul perasaan bersalah karena telah melalaikan salah satu kewajiban. Jadi, seorang Muslim wajib mengetahui skala prioritas berdasarkan wahyu, memahami mana yang fardhu (wajib) dan mana yang tidak wajib; mana yang fardhu ‘ain dan mana yang fardhu kifayah; mana yang pelaksanaan fardhu itu bisa dijalankan pada interval waktu yang sangat memadai (luas) dan mana yang interval waktunya sempit sehingga lebih diutamakan; mana yang bisa menimbulkan fitnah dan mana yang tidak; mana yang implikasi madaratnya (menurut syariat) lebih besar dan mana yang Iebih ringan (jika perkaranya itu wajib); dan lain-lain.

3. Dukungan orang-orang terdekat. Sikap suami, anak-anak, orangtua, dan orang-orang yang berada di sekitar Muslimah, langsung atau tidak langsung, akan berpengaruh terhadapnya dalam menunaikan kewajibannya. Beban rumah tangga dan aktivitas di luar rumah (seperti menuntut ilmu, menjalankan aktivitas dakwah, atau mungkin bekerja) jelas sangat berat. Akan lebih berat lagi jika suami atau keluarga tidak memahami posisi dari aktivitas-aktivitas tersebut. Suami dan istri harus saling menolong dalam beribadah kepada Allah dan berlomba dalam kebaikan. Dengan begitu, akan tercipta sebuah keluarga yang harmonis, sakinah, mawaddah wa rahmah,.

4. Pentingnya memahami hukum-hukum Islam yang terkait dengan posisi seorang Muslim. Seorang perempuan, mungkin berada di dalam berbagai habitat masyarakat. Dia bisa berada di dalam habitat keluarga; dia bisa berada di dalam habitat masyarakat (karena tinggal bersama-sama dan bermukim dengan anggota masyarakat lain di suatu lingkungan); dia bisa berada di dalam habitat jamaah dakwah (jika dia berkiprah di dalam jamaah dakwah); dan juga bisa berada di datam habitat profesi (jika dia bekerja); dan lain-lain. Masing masing habitat tersebut memiliki hukum-hukum tersendiri yang amat spesifik. Masing-masing juga memiliki posisi yang khas bagi seorang perempuan. Dalam perkara ini, seorang Muslim, baik perempuan maupun laki-laki, harus memahami hukum-hukum tersebut dan keterkaitannya satu- dengan yang lain; begitu pun prioritas-prioritas yang harus dilaksanakannya.

Yang perlu di garis bawahi, seorang Muslim perlu memperhatikan format sistem masyarakat Islam yang ingin direalisasikannya agar masing-masing habitat tersebut memang menggambarkan kondisi real masyarakat Islam yang ingin diwujudkannya. Bisa dibayangkan salah kaprahnya jika, misalnya, sebagian besar Muslimah ramai-ramai melakukan aktivitas di luar rumah (yakni bekerja), sementara kondisi semacam itu bukanlah format yang ingin direalisasikannya. Sebab, memang Islam tidak menjadikan tanggung jawab nafkah itu berada pada pundak seorang perempuan. Di samping itu, tanggung jawab pembinaan dan pendidikan terhadap generasi mendatang (yakni anak-anaknya) lebih diutamakan daripada pekerjaannya yang bersifat mubah. Untuk itu, kita perlu mnerenungkan gambaran realistis dan syar’I dari kehidupan masyarakat Islam yang ingin diwujudkan dengan berkaca pada masyarakat Islam pada kurun Rasulullah saw. dan para sahabatnya hidup. Sebab, kurun-kurun itulah yang menjadi kurun terbaik yang dimiliki umat.
Dari kajian kehidupan masyarakat Islam pada masa Rasulullah saw. akan tampak bagaimana kiprah sahabat-sahabat perempuan di dalam komunitas hidup; baik di tengah-tengah masyarakat, di medan jihad fi sabilillah, di lapangan dakwah, di tengah-tengah keluarga, di bidang profesi masyarakat, dan lain-lain.
Semoga perempuan Muslimah benar-benar bisa menjadi perempuan shalihah.

OIeh Ir Dedeh Wahidah Achmad (AL-WAIE 34)

Iklan

Entry filed under: KELUARGA DAN MUSLIMAH.

PRIORITAS AMAL MUSLIMAH MENCETAK GENERASI UNGGULAN

3 Komentar Add your own

  • 1. amsar  |  April 10, 2009 pukul 2:59 pm

    Assalamu’alaikum…

    senang jumpa blog yang penuh barokah..
    salam kenal dari saya
    Muhammad Amsar dari Banda Aceh

  • 2. thoriq  |  Februari 24, 2010 pukul 9:32 am

    ya allah berikan lah hamba pasangan yg mencintai MU n rosulx

  • 3. idho  |  Mei 9, 2010 pukul 3:47 am

    senang sekali…. seandainya aku bisa menddapatkan wanita saholihah dan cantik…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


JUNDULLAH 1924

mujahid
batang

Kategori

Desember 2008
S S R K J S M
    Jan »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Titian Wahyu :

titian-wahyu-4

Blog Stats

  • 19,430 hits

RSS INFO DARI HTI

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

PENDAPAT ANDA

BENDERA ISLAM (ar-Rayya)

arroya-berkibar-2
naruto-arroya2
naruto-arroya-61
naruto-arroya-5
nar-pin1
con-pin1a
pin-last-samurai-arroya
sas-pin3a

%d blogger menyukai ini: