MENCETAK GENERASI UNGGULAN

Desember 21, 2008 at 3:20 am Tinggalkan komentar

generasi-unggulanUmat Islam adalah umat yang dibangun pertama kali oleh Rasulullah saw. Umat inilah yang digelari Allah Swt. sebagai umat terbaik atau khairu ummah (QS Ali Imran [3]: 110); yang terunggul di antara umat manusia.Kita yakin bahwa julukan khairu ummah bukan hanya untuk para sahabat Nabi, tetapi berlaku umum manakala kaum Muslim memenuhi syarat-syarat generasi unggulan itu. Persoalannya, yang unggulan itu yang bagaimana?


Generasi unggulan adalah generasi yang tersusun atas individu-individu yang memiliki kepribadian yang unggul di dunia akhirat. Kepribadian yang unggul di dunia adalah kepribadian yang telah berhasil mencapai keunggulan dalam oleh pikir, olah rasa, dan olah raga sehingga mampu mengungguli pribadi-pribadi lainnya; dalam kondisi prima memiliki keunggulan sumber daya manusia melebihi 10 orang kafir (Lihat: QS al-Anfal [8]: 65) dan dalam kondisi di bawah form pun masih mampu mengungguli 2 orang kafir (Lihat: QS al-Anfal [8]: 66).

Kepribadian yang unggul di akhirat lantaran telah terlatih memaksimalkan segala yang dimiliki dan diperolehnya di dunia untuk kepentingan mendapatkan negeri akhirat (Lihat: QS al-Qashash [28]: 77). Manusia yang unggul di akhirat adalah manusia penghuni surga tertinggi dan paling tengah, yaitu Jannah al-Firdaus, yang dihuni oleh para pabi, shiddiqîn, para syuhada, dan orang-orang shalih.

Terwujudnya generasi unggulan dunia dan akhirat itulah visi yang mesti ditetapkan bagi seluruh usaha pendidikan yang diselenggarakan oleh kaum Muslim. Visi dan misi itu wajib dimiliki seluruh umat Islam; baik individu, keluarga, kelompok masyarakat, maupun negara. Dengan visi dan misi itu, akan lahir kembali generasi unggulan sebagaimana generasi pertama umat ini dulu.

Mencetak Generasi Unggulan Lewat Pendidikan Alternatif

Pendidikan merupakan tanggung jawab bersama dari berbagai pihak, yaitu keluarga, masyarakat, dan negara. Akan tetapi, dalam kondisi saat ini, ketika masyarakat tidak berdaya dan negara pun berlepas diri, keluarga adalah benteng terakhir dalam penyelenggaraan pendidikan. Keluarga adalah lembaga pendidikan pertama dan utama dalam membentuk generasi unggulan. Ayah sebagai kepala rumah tangga berfungsi sebagai pemimpin (leader) yang mengarahkan pendidikan anak-anaknya sesuai dengan visi dan misi pendidikan Islam, sedangkan ibu berperan sebagai pelaksana harian dalam pendidikan anak-anaknya.

Memang, dengan melihat kondisi masyarakat, negara, dan sekolah yang saat ini sangat memprihatinkan, pilihan yang sepintas kelihatannya lebih baik adalah sekolah Islam terpadu (fullday school) dan pesantren modern (boarding school). Pada tataran masyarakat awam ada anggapan bahwa anak-anak mereka akan menjadi lebih baik keislamannya hanya jika anak-anak mereka bersekolah di pesantren. Pada kalangan aktivis dakwah ada sebagian pandangan bahwa anak-anak mereka dapat terhindar dari pengaruh negatif lingkungan yang tidak Islami dan dapat lebih mengental warna keislamannya dengan cara bersekolah di sekolah Islam terpadu atau pesantren. Bahkan, ada yang mengkhususkan dirinya untuk memperjuangkan sekolah-sekolah sejenis yang semakin marak.

Melihat kenyataan tersebut, tanpa mengurangi penghargaan terhadap usaha-usaha semacam itu, tampaknya kita perlu berhitung secara obyektif mengenai kelebihan dan kekurangan dari sekolah terpadu ataupun pesantren tersebut. Dengan harapan, kita bisa menutupi kekurangan-kekurangan yang ada serta meningkatkan kelebihan-kelebihan yang dimilikinya. Selanjutnya, kita bisa menemukan alternatif lain yang bisa kita lakukan untuk memecahkan permasalahan ini. Kelebihan dan kekurangan tersebut dapat kita lihat dari berbagai segi, yaitu:

1. Pembiayaan.

2. Materi pelajaran.

3. Pembentukan kepribadian.

4. Efektivitas waktu membentuk generasi unggulan.

5. Efektivitas tenaga membentuk generasi unggulan.

6. Kontrol orangtua.

7. Efek multiplier dalam keluarga.

8. Efek multiplier dalam masyarakat.

9. Efektivitas penanaman nilai.

10. Kealamiahan: menghadapi kenyataan lingkungan masyarakat yang heterogen.

11. Gerak dakwah.

12. Sosialisasi dengan lingkungan.

Dilihat dari 12 segi di atas, penulis melihat kelebihan atau kekurangan sekolah Islam terpadu atau pesantren umumnya:

1. Relatif mahal, tidak terjangkau oleh kalangan ekonomi lemah.

2. Siswa relatif mendapat lebih banyak mata pelajaran tsaqâfah Islam dibandingkan dengan sekolah umum, namun relatif lebih sedikit dibandingkan dengan pesantren salafiyah yang hanya mengajarkan tsaqâfah Islam.

3. Karena kurikulum lembaga pendidikan formal ditentukan oleh negara, maka pembentukan syakhshiyyah islâmiyyah dalam definisi di atas tidak menjadi program utama. Sekolah lebih menekankan transfer pengetahuan Islam (ma‘ârif Islamiyah) dan aplikasi Islam yang terbatas pada ibadah ritual dan akhlak semata. Persoalan akan muncul setelah anak didik lulus dan berinteraksi dengan masyarakat. Belum ada satu bukti alumni pondok pesantren yang mayoritas maupun rata-ratanya menjadi pengemban ideologi Islam. Yang ada justru sebaliknya, umumnya alumni pondok pesantren larut dengan lingkungan masyarakat pergaulannya. Yang ketemu dengan penganut sosialis, menjadi aktivis sosialis kiri. Yang ketemu paham sekular liberalis, menjadi aktivis gerakan sekular liberal. Yang ketemu dengan gerakan Islam menjadi aktivis gerakan Islam.

4. Dengan melihat poin 2 dan 3, kita perlu mempertimbang efektivitas dan efisiensi pemberian materi pada model pendidikan tersebut dalam melahirkan generasi unggulan: apakah masih ada peluang bagi kita untuk memberikan usulan perubahan kurikulum yang memuat hal-hal yang memang urgen dan efektif bagi kehidupan anak, kaum Muslim, dan dakwah Islam. Bila tidak ada perubahan kurikulum, orangtua masih harus memberikan tambahan materi pelajaran di luar jam sekolah atau pesantren untuk menyempurnakan materi yang mempengaruhi pembentukan syakhshiyyah islâmiyyah. Bagi anak-anak yang sudah masuk pesantren hal ini hanya dapat dilakukan pada saat libur sekolah setahun sekali. Terlalu banyaknya tsaqâfah Islam yang dipelajari yang kurang terfokus pada materi pendidikan yang urgen bagi kehidupan anak, kaum muslimin dan dakwah Islam, maka proses pendidikan yang dijalani si anak akan lebih lama daripada yang semestinya bilamana materi pelajaran bisa diseleksi dengan seefektif mungkin.

5. Dengan melihat poin ke-4 maka orangtua harus mempunyai tenaga ekstra untuk menghapus pemahaman yang bertentangan dengan akidah Islam dan atau syariat Islam yang sudah beberapa saat mengendap dalam benak anak.

6. Orangtua memiliki kesempatan yang sangat kecil untuk dapat mengontrol perkembangan syakhshiyyah islâmiyyah anak-anaknya, karena hanya dapat dilakukan di luar jam sekolah (yang relatif sedikit sekali) bahkan bagi yang menginap di pesantren hanya setahun sekali.

7. Tingkat efek multiplier dalam keluarga rendah, karena waktu bertemu dengan keluarga sangat terbatas. Jadi, pengaruh yang ditularkan kepada adik-adiknya sangat terbatas.

8. Tingkat efek multiplier dalam masyarakat sekitarnya juga rendah karena tidak cukup waktu untuk bergaul dengan mereka. Jadi, pengaruh yang ditularkan pada lingkungan masyarakat sekitarnya kurang terasa dan keluarga yang bersangkutan kurang termotivasi untuk mendorong masyarakat di sekitarnya membentuk syakhshiyyah islâmiyah anak-anak mereka.

9. Lebih efektif dalam hal penanaman nilai, karena lingkungannya yang homogen sehingga lebih mudah terjaga dari pengaruh negatif di luar lingkungan sekolah. Hal ini mungkin terjadi mengingat anak lebih banyak bergaul dalam lingkungan sekolah saja, yang menerapkan aturan tertentu bagi seluruh siswanya.

10. Lebih rentan menghadapi kenyataan yang ada di tengah-tengah masyarakat yang sangat heterogen kondisinya, karena lebih terbiasa dengan suasana lingkungan yang homogen. Siswa-siswa yang lemah kepribadiannya akan lebih mudah terpengaruh dan sulit beradaptasi dengan kenyataan yang dihadapinya yang sangat berbeda dengan lingkungannya di sekolah.

11. Berkaitan dengan poin 1, orangtua yang kondisi ekonominya pas-pasan harus berusaha sedemikian rupa untuk dapat menutupi tingkat biaya yang relatif tinggi. Fokus perhatian orangtua sangat tersedot dalam menghadapi masalah ini. Dalam jangka panjang hal tersebut akan mempengaruhi kesempatan serta ketersediaan waktu, tenaga, dan pikiran untuk gerak dakwahnya; terutama ketika jenjang pendidikan anaknya bertambah tinggi dan semakin bertambah jumlah anaknya yang bersekolah. Berkaitan dengan poin 8, dakwah dari keluarga ini relatif kurang mengakar pada masyarakat di lingkungan sekitarnya. Anak-anak mereka menjadi mercusuar bagi anak-anak di lingkungannya. Orangtua sendiri relatif kurang menyatu dengan kehidupan masyarakat sekitar yang masih sangat memerlukan bimbingan keislaman.

12. Kemampuan sosialisasi dengan lingkungan relatif rendah, karena waktu anak habis di sekolah dan waktu yang tersisa tidak cukup untuk bergaul dengan masyarakat di sekitarnya. Namun demikian, khusus bagi lingkungan perumahan yang bersifat individual dan dalam kondisi keluarga yang kedua orangtuanya sibuk meniti jenjang karir, sekolah sejenis ini akan banyak membantu anak tersebut belajar bersosialisasi. Khusus pada kasus ini, ketika mereka di rumah tidak ada orang tua yang mendampinginya, dan kalaupun mereka keluar rumah, tidak ada teman yang bisa diajak bermain.

Program Praktis Membentuk Generasi Unggulan dalam Keluarga Masa Kini

Rasulullah Saw bersabda:

Seorang anak diaqiqahi pada hari ketujuh dari kelahirannya, diberi nama yang baik, dan dihilangkan penyakitnya (dicukur rambut kepalanya). Usia 6 tahun ia diajarkan adab, usia 9 tahun dipisahkan tempat tidurnya; usia 13 tahun dipukul jika tidak melaksanakan shalat dan shaum. Jika sudah menginjak usia 16 tahun, ayahnya mengawinkannya, lalu mendekatkan anaknya dengan tangannya sambil berkata, “Aku telah mendidikmu, mengajarimu, dan mengawinkanmu. Aku berlindung kepada Allah dari fitnah (yang disebabkan) kamu, dari azab yang disebabkan olehmu. (HR Ibn Hibban dari Anas r.a.)

Berdasarkan dalil tersebut di atas, tahapan pendidikan Islam untuk melahirkan generasi unggulan adalah sbb:

Tahap 1: Pendidikan masa kehamilan.

Saat hamil ibu sudah dapat melakukan hal-hal yang dapat merangsang janin yang masih dalam keadaan fitrah tauhid (QS al-A‘raf [7]: 172). Secara praktis, ibu mengkondisikan dirinya yang sedang mengandung janin agar selalu berada dalam suasana hati, jiwa, dan pikiran yang dipengaruhi oleh akidah Islam dan keterikatan terhadap syariat Islam. Di samping membereskan pekerjaan rumah tangga, Ibu hamil harus:

(1) lebih mengoptimalkan pendekatan dirinya kepada Allah dengan meningkatkan ibadah: shalat, tadarus, berdoa, berzikir, dll;

(2) lebih meningkatkan semangat mempelajari Islam (dengan cara membaca buku-buku keIslaman ataupun menghadiri majelis ilmu yang membahas akidah Islam dan halal-haram) sebagai bekal untuk mendidik anaknya dan sebagai pedoman dalam menjalani kehidupannya.

(3) mengalirkan semangat memperjuangkan kemuliaan Islam dan kaum Muslim dengan lebih giat lagi berdakwah dengan tetap memperhatikan kondisi kesehatannya.

Tahap 2: Pendidikan usia bayi (0-1 tahun).

Ibu harus merangsang seluruh pancaindera anak dengan hal-hal yang tidak dilarang oleh Allah, bahkan pelaksanaan perintah-perintah-Nya.

1) Bayi berkesempatan sebanyak mungkin menyaksikan ibu yang sedang menjalankan perintah-perintah Allah.

2) Bayi sering diperdengarkan bahasa Islam termasuk kalimat thayyibah, shalawat, istighfar, doa, bacaan al-Quran, dll.

Tahap 3: Pendidikan usia prasekolah.

Anak sudah dapat dilibatkan secara praktis dalam setiap usaha penanaman nilai-nilai Islam.

1) Mengenalkan Allah melalui ciptaan-Nya dan segala sesuatu Pemberian Allah untuk manusia.

2) Menanamkan kecintaan kepada Allah dan Rasulullah dengan menunjukkan sekaligus mengajak anak melaksanakan perintah Allah dan meninggalkan larangan Allah dalam kehidupannya sehari-hari.

3) Membentuk idola para tokoh Islam, terutama para sahabat, sebagai teladan nilai-nilai Islam.

4) Menanamkan akhlak Islam.

5) Mengenalkan dan membiasakan membaca al-Quran secara bertahap: talqîn, tahfîzh, tadarrus.

6) Membiasakan mengucapkan kalimat thayyibah sesuai dengan peristiwa yang dialami anak dalam kehidupan sehari-hari.

7) Membaca doa sehari-hari.

8) Membiasakan memanfaatkan waktu dengan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat: bermain yang selektif dalam jenis permainannya, teman bermainnya, waktu, dan tempatnya; menonton TV yang terkendali waktu dan programnya terutama program berita dan pengetahuan untuk menumbuhkan sikap intelektualitasnya dan terbiasa memperhatikan keadaan manusia termasuk kaum Muslim di berbagai negara dalam berbagai peristiwa; membaca buku (dibacakan).

9) Memasukkan anak ke TK Islam yang materi pendidikannya lebih banyak keislamannya meliputi doa, hadis, surat-surat pendek, gerakan dan bacaan shalat, kisah-kisah para nabi dan para sahabat, belajar al-Quran dengan metode iqra, lagu-lagu Islami, dll.

10) Mengajak anak mengikuti kegiatan keislaman ayah atau ibu setiap ada kesempatan, baik mengikuti maupun mengisi kajian keislaman.

11) Mengkondisikan suasana di rumah senantiasa kental warna keislamannya.

12) Bapak bisa mengajak anak shalat berjamaah ke masjid atau manakala bepergian jauh selalu mampir ke masjid untuk menumbuh kecintaan anak pada masjid.

Tahap 4: Pendidikan usia sekolah.

Anak-anak sudah mulai diajarkan untuk serius dan terencana dalam menjalani kehidupan. Penanaman nilai-nilai Islam sudah dapat dilakukan dengan metode berpikir dan berdialog untuk menumbuhkan kesadaran akan keterikatannya dengan syariat Islam dan mempersiapkan anak memasuki usia balig secara matang. Kegiatannya sehari-hari sudah terjadwal sedemikian rupa sehingga tidak ada waktu yang terbuang sia-sia. Misalnya, membuat majalah dinding di rumah, terbiasa mendengarkan program berita setiap hari, banyak membaca buku untuk memperluas wawasan, mengomentari apa saja yang dilihat dengan pemikiran-pemikiran Islam dan syariat Islam, membuat klipping informasi penting, senang mengikuti kegiatan-kegiatan kajian keislaman, dll.

Dengan demikian, program majelis taklim keluarga sudah dapat dimulai. Waktu belajar adalah ba’da Subuh dan ba’da Maghrib sekitar 1/2-1 jam sesuai dengan kondisi masing-masing, setiap hari. Materi pelajaran ditujukan untuk membentuk kepribadian Islam serta yang diperlukan oleh umat Islam, yang akan berlanjut dari tingkat SD, SMP, SMU, dst. Dana yang diperlukan hanya untuk melengkapi buku-buku pokok sebagai pegangan dan buku-buku referensi tambahan sebagai pelengkap. Pengajarnya adalah ayah dan ibu. Kita dapat melakuakn semua itu sambil memotivasi masyarakat sekitar agar terdorong untuk mendidik anak-anaknya menjadi generasi unggulan sehingga mereka membutuhkan adanya madrasah diniyah di lingkungan tersebut. Selanjutnya, dengan menggunakan fasilitas dan sarana yang ada maka kita dapat melaksanakan madrasah diniyah tersebut setiap sore hari ba’da sholat Ashar bagi anak usia SD atau ba’da Isya setiap hari bagi anak tingkat SMP/SMU/dst. Gambaran materi pengajaran pada anak usia sekolah dapat dilihat pada tabel 1.

Tabel 1. Gambaran materi pelajaran majelis taklim keluarga atau madrasah diniyah pada usia sekolah:

Khatimah

Dengan program pendidikan anak yang terjadwal rapi dan biaya yang sangat minim, fokus perhatian orangtua tidak hanya melulu pada masalah biaya pendidikan formal yang relatif tinggi bagi anak-anaknya. Dengan demikian, ayah dan ibu bisa optimal dalam berdakwah karena waktunya tidak habis untuk menutupi biaya pendidikan yang relatif mahal. Selanjutnya, majelis taklim keluarga ini akan lebih terasa langsung bagi lingkungannya ketika anak-anaknya bergaul dengan anak-anak tetangganya. Orangtua terdorong untuk mewarnai lingkungan masyarakat sekitar yang akan menjadi lingkungan pergaulan dari anak-anaknya. Dengan demikian, gerak dakwah orangtua menjadi efektif karena mengakar pada lingkungan sekitar.

Satu catatan buat para aktivis dakwah yang mengklaim dirinya bergerak di tengah-tengah umat, sudahkah langkah pendidikan dan dakwah yang mereka tempuh benar-benar melibatkan umat dalam upaya membangkitkan mereka? Bila pendidikan yang diperoleh anak-anak umat dan anak-anak para aktivis dakwah menciptakan gap, bukankah ini akan semakin menambah faktor kesulitan masuknya dakwah Islam ke tengah-tengah masyarakat. Ironis sekali, para aktivis dakwah ingin menyelamatkan anak-anak mereka sambil membiarkan anak-anak masyarakat berada dalam keterpurukan pendidikan. Bukankah keunggulan generasi yang ingin kita lahirkan adalah keunggulan generasi kaum Muslim, bukan keunggulan keturunan segelintir orang? Wallâhu a‘lam. []

OLEH : mmu Kultsum, Kepala RA dan Madrasah Diniyah serta praktisi pendidikan kemasyarakatan, tinggal di Bogor.

Usia Sekolah

Gambaran Materi Pengajaran

SD

(umur 7 tahun sampai menjelang baligh)

Melatih anak menyiapkan diri menerima tugas-tugas kemanusiaan sebagai hamba Allah dengan cara:

1) Mulai konsentrasi belajar baca tulis dan selanjutnya dirangsang untuk gemar membaca.

2) Penanaman aqidah agar tertancap kuat dalam benak anak, dengan metode aqidah aqliyah secara praktis sebagaimana pendekatan Al Quran.

3) Melanjutkan hafalan qur’an, hadits, do’a, bacaan sholat dan artinya.

4) Mengamalkan apa yang dibolehkan dan diharamkan sehingga mulai mengatur kehidupan anak agar selalu terikat dengan syariat Islam. Umur 7 sampai 10 tahun diajarkan hukum-hukum ibadah: shalat, shaum, zakat, haji, dll. Targetnya adalah pengenalan dan pelatihan (pembiasaan) praktek ibadah yang fardhu ‘ain. Salah satu metode yang dapat dilakukan misalnya dengan membuat buku catatan ibadah harian si anak, agenda ramadhan, dll. Pada umur 10 tahun sampai baligh, mulai pendisiplinan untuk menjalankan ibadah yang fardhu ‘ain (sampai kalau perlu dipukul) agar setelah memasuki usia baligh sudah tidak berat dan tidak lalai lagi dalam menjalankan kewajiban-kewajibannya, sehingga dapat dilanjutkan pada hukum Islam yang bersifat fardhu kifayah. Jadi sudah harus ditumbuhkan kesadaran akan keterikatannya dengan syariat Islam, sehingga diperlukan kajian tentang Islam sebagai aqidah dan syariat.

5) Memperbanyak tsaqofah Islam (ilmu pengetahuan yang berlandaskan aqidah Islam) seperti fiqh, siroh nabi, teladan para sahabat (yang disampaikan dalam bentuk cerita), bahasa Arab untuk dipraktekkan dalam kegiatan sehari-hari, tajwid, tilawah, tafsir, khot,

6) Mulai latihan berbicara di depan umum, seperti membacakan ayat Qur’an, hadits, baca puisi, dll

SMP

Anak sudah memasuki masa baligh, sehingga sudah wajib untuk melaksanakan hukum Islam secara sempurna. Sehingga anak harus mulai digambarkan Islam secara utuh sebagai sebuah system aturan hidup (mabda). Materi yang urgen:

1) Mabda Islam dan perbandingannya dengan mabda lain

2) Kewajiban dakwah

3) Taqorrub ilallah

4) Fikrul Islam

5) Dirosat fil fikril Islam

6) Problematika umat

7) Bahasa arab dari segi nahwu shorofnya untuk diterapkan dalam mengkaji kitab-kitab berbahasa Arab

8) Kajian tafsir

9) Kajian hadits

10) Kajian lanjutan tentang siroh nabi dan teladan para sahabat nabi

11) Latihan menjadi imam dan khutbah

12) Latihan menulis

13) Mulai mengikuti kegiatan-kegiatan edukatif yang ada secara pasif seperti seminar, bedah buku, tabligh akbar, dll

SMU

Anak sudah memahami Islam sebagai sebuah mabda, dan mulai ditumbuhkan untuk mengambil peran dalam memuliakan Islam dan kaum muslimin sesuai dengan posisinya masing-masing. Materi yang urgen:

1) Analisa siroh nabi

2) Ulumul Qur’an

3) Ulumul hadits

4) Bahasa Arab lanjutan

5) Ushul fiqh

6) Mulai diungkap pemikiran-pemikiran kufur yang merusak, aliran-aliran sesat dan ajaran-ajaran yang membahayakan

7) Belajar ketrampilan khusus untuk mempersiapkan anak terjun ke masyarakat: komputer, elektro, jurnalistik, menjahit, percetakan, memasak, akuntasi, montir, dll. Dan anak didorong untuk mengembangkan diri sesuai dengan kemampuan dan bakatnya agar dapat memperoleh kemampuan maksimal dalam ketrampilan-ketrampilan khusus tersebut.

8) Latihan berdiskusi dan menyampaikan materi ke Islaman

9) Mulai mengikuti kegiatan-kegiatan edukatif yang ada dengan aktif seperti seminar, bedah buku, tagligh akbar, dll.

10) Mulai aktif mengirimkan tulisan-tulisan ke media masa.

11) Mulai mengkaji Islam secara langsung dari kitab-kitab berbahasa Arab

Perguruan Tinggi/Pasca SMU

Anak sudah menjadi anggota masyarakat yang siap bergerak bersama-sama masyarakat secara mandiri. Materi yang urgen:

1) Berinteraksi, berdiskusi dan berargumentasi serta berdebat menghadapi pengaruh ideology/kebudayaan selain Islam

2) Terus menggali tsaqofah Islam untuk diterapkan pada masalah-masalah yang dihadapinya di lingkungan masyarakat local maupun internasional

3) Menjadi panutan dan tempat bertanya bagi masyarakat di sekelilingnya

4) Dapat memanfaatkan ketrampilan-ketrampilan khusus yang dimilikinya sehingga dirinya menjadi eksis di masyarakat

5) Belajar bahasa Inggris agar dapat berkomunikasi secara internasional

6) Belajar menjadi muqallid muttabi’ dan berijtihad dengan modal tsaqofah Islam yang memadai, sehingga akan muncul para mujtahid yang sangat diperlukan ummat manusia di seluruh dunia.

Iklan

Entry filed under: KELUARGA DAN MUSLIMAH.

POTRET WANITA SHALIHAH KEHIDUPAN EKONOMI DI BAWAH KHILAFAH ISLAMIYAH

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


JUNDULLAH 1924

mujahid
batang

Kategori

Desember 2008
S S R K J S M
    Jan »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Titian Wahyu :

titian-wahyu-4

Blog Stats

  • 19,667 hits

RSS INFO DARI HTI

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

PENDAPAT ANDA

BENDERA ISLAM (ar-Rayya)

arroya-berkibar-2
naruto-arroya2
naruto-arroya-61
naruto-arroya-5
nar-pin1
con-pin1a
pin-last-samurai-arroya
sas-pin3a

%d blogger menyukai ini: