KEHIDUPAN EKONOMI DI BAWAH KHILAFAH ISLAMIYAH

Desember 21, 2008 at 3:27 am Tinggalkan komentar

dinarUmat manusia saat ini dikendalikan sistem ekonomi kapitalis yang tidak meratakan kemakmuran, tetapi justru menciptakan pemiskinan sistematik. Sistem ini juga sangat rentan terhadap guncangan sehingga timbul ketidakstabilan ekonomi. Sistem ini memberikan perhatian besar terhadap sektor non-real dan mencampurkannya dengan sektor real dalam pengukuran kemajuan ekonomi sehingga sistem ini memberikan kemajuan ekonomi yang ilusif; kemajuan ekonomi yang lebih disebabkan oleh sektor non real yang pada faktanya tidak memberikan pengaruh terhadap ekonomi real dan kesejahteraan masyarakat. Kemajuan ekonomi semu ini justru menjadi bom waktu yang dapat meruntuhkan kehidupan perekonomian seperti yang terjadi pada krisis ekonomi beberapa tahun terakhir dan

kejadian ini senantiasa berulang. Untuk menyelamatkan umat manusia, diterapkannya sistem ekonomi alternatif sangat ditung

gu. Sistem ekonomi sosialis secara pasti adalah rusak dan sudah terbukti gaga. Kini, sistem Islamlah yang sedang ditunggu untuk menyelamatkan umat manusia dari kerakusan sistem kapitalis.

Terdapat banyak hadis yang memberitakan kehidupan perekonomian yang akan dialami oleh kaum Muslim, yaitu berlimpahnya kekayaan mereka. Jabir bin ‘Abdillah menuturkan bahwa Rasulullah saw. bersabda:

«يَكُوْنُ فِيْ آخِرِ أُمَّتِيْ خَلِيْفَةٌ يَحْثُوْ الْمَالَ حَثْيًا لاَ يَعُدُّهُ عَدَدًا»

Akan ada pada akhir umatku seorang khalifah yang memberikan harta secara berlimpah dan tidak terhitung banyaknya.

Al-Jurayri berkata kepada Abu Nadhrah dan Abu al-‘Ila, apakah yang Anda maksudkan adalah ‘Umar bin ‘Abd al-‘Aziz? Abu Nadhrah dan Abu ‘Ila menjawab, “Tidak”. Ibn Katsir menulis dalam kitabnya, an-Nihâyah fi al-Fitan wa al-Malâhim, juz I, hlm. 57, hadis dari Ahmad bahwa Abu Sa‘id ia pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda:

«اِنَّ مِنْ اُمَرَائِكُمْ اَمِيْرًا يَحْثُوْ الْمَالَ حَثْوًا وَلاَ يَعُدُّهُ عَدًّا يَأْتِيْهِ الرَّجُلُ فَيَسْأَلُهُ فَيَقُوْلُ: خُذْ, فَيَبْسُطُ ثَوْبَهُ قَيَحْثُوْ فِيْهِ, وَبَسَطَ رَسُوْلُ اللهِ مِلْحَفَةً “غَلِيْظَةً” كَانَتْ عَلَيْهِ يَحْكِيْ صَنُعَ الرَّجُلِ ثُمَّ جَمَعَ عَلَيْهِ أَكْتَافَهَا قَالَ: فَيَأْخُذُهُ ثُمَّ يَنْطَلِقُ»

Sungguh, di antara para pemimpin kalian ada seorang pemimpin yang memberikan harta secara berlimpah yang tidak terhitung. Seorang laki-laki mendatanginya dan meminta kepadanya (harta), lalu pemimpin itu berkata, “Ambillah!” Laki-laki itu menghamparkan pakaiannya dan pemimpin itu mencurahkan (harta/uang) di atasnya. Rasulullah saw. menghamparkan selimut yang lebar menceritakan perbuatan laki-laki itu kemudian ia mengumpulkan (harta) di atas selimut itu sampai penuh. Beliau bersabda, “Laki-laki itu mengambilnya dan kemudian pergi.”

Kedua hadis tersebut mengabarkan bahwa kelak ada pemimpin kaum Muslim yang akan memberikan harta berlimpah, sementara tidak ada pemimpin Islam kecuali ada Daulah Islam. Jadi, hadis tersebut mengabarkan kelak akan ada Khilafah Islam yang berlimpah dengan harta hingga jika karena sesuatu hal ada individu rakyat yang meminta harta dari negara, negara akan memberinya harta yang sangat banyak. Kondisi demikian belum terjadi dan pasti akan terjadi dengan seizin Allah.

Secara historis, kaum Muslim telah mengenyam kehidupan yang sangat makmur selama kurun waktu yang panjang karena berlimpahnya harta kekayaan rakyat dan negara. Sejarah telah menjadi saksi pada era Khalifah ‘Umar bin ‘Abd al-‘Aziz. Pada saat itu, tidak ada satu orang pun penduduk Afrika—yang di era modern saat ini di dera kemiskinan yang luar biasa—yang mau mengambil harta zakat, karena semua orang berkecukupan harta. Bahkan Mahmud Syakir, dalam at-Târîkh al-Islâmî, juz IV, hlm. 221 menceritakan bahwa ‘Umar bin ‘Abd al-‘Aziz telah melakukan upaya perbaikan sistem selama masa pemerintahannya yang hanya 30 bulan atau 2,5 tahun. Dalam waktu singkat ini beliau mampu mengatasi masalah kemiskinan hingga tidak ada orang yang mengambil harta zakat. Beliau telah menaikkan gaji para pegawai negara hingga ada yang mencapai 300 dinar (1275 gram emas). Ketika ditanya mengenai hal itu, beliau menjawab, “Aku hendak mencukupi mereka agar mereka tidak berbuat khianat. (korupsi, manipulasi, dsb).”

Jika diukur dengan nilai sekarang, jumlah itu—jika satu gram emas setara dengan Rp 70.000,-—senilai dengan Rp 89.250.000,-. Gaji pegawai negeri sebesar itu mustahil diberikan oleh sistem kapitalis, apalagi oleh sistem sosialis.

Pada masa al-Hakim bin Amrillah, di Kairo, Khilafah membangun 20.000 kios untuk disewakan kepada para pedagang dengan harga yang murah. Pada masa itu negara juga membangun perumahan untuk rakyat dan bangunan-bangunan besar yang dilengkapi dengan suplai air, dengan menyediakan 50.000 ekor unta untuk mendistribusikan air ke perumahan-perumahan rakyat. Proyek sangat spektakuler ini tidak mungkin dilakukan oleh negara kecuali ekonominya sangat maju dan memiliki harta kekayaan yang berlimpah.

Kemajuan ekonomi ini juga masih terasa pada masa akhir Khilafah Utsmaniyah. Sultan Abdul Hamid pada tahun 1900 M, misalnya, berhasil membangun jaringan kereta api Hijaz dari Damaskus ke Madinah dan dari Aqaba ke Maan. Beliau juga membangun jaringan fax antara Yaman, Hijaz, Syiria, Irak dan Turki; lalu jaringan tersebut dihubungkan dengan jaringan fax India dan Iran. Semua jaringan fax ini diselesaikan hanya dalam waktu dua tahun. Padahal sekarang, dengan penghasilan minyak begitu besar, tidak ada jaringan kereta api di Timur Tengah seperti yang dibangun oleh beliau.

Tingkat kemajuan dan kemakmuran demikian tidaklah mengherankan jika dapat dicapai oleh Khilafah Islam. Oleh karena itu, sangat mungkin Khilafah Islam kelak dapat mencapai tingkat kemajuan dan kemakmuran yang setara atau bahkan melebihi apa yang pernah dicapai oleh kaum Muslim terdahulu. Bahkan ini telah diberitakan oleh Rasulullah saw. dalam hadis di atas.

Pengaruh Akidah Islam

Akidah Islam merupakan akidah yang memancarkan sistem, termasuk di dalamnya sistem ekonomi. Dengan demikian, pengaruh akidah ini sebenarnya terlihat dengan terpancarnya sistem yang benar, yang dapat mewujudkan semua hal di atas. Oleh karena itu, di sini lebih ditekankan pada pengaruh dorongan ruhiah akidah Islam.

Rasa takut kepada Allah, ketamakan terhadap surga dan keridhaan-Nya, serta ketakutan akan azab neraka yang tertanam kuat secara jernih dalam diri seorang Muslim akan mendorongnya memiliki sifat kedermawanan, memberi tanpa pamrih, memberikan pelayanan kepada masyarakat, dan giat berusaha membenci sikap malas.

]وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَاْلإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلاَ يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ[

Orang-orang yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin). Mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Siapa saja yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS al-Hasyr [59]: 9).

Ayat ini menggambarkan secara jelas bagaimana dorongan ruhiah akidah Islam yang tertanam pada diri kaum Anshar mendorong mereka untuk memberi harta kepada kaum Muhajirin sekalipun mereka menginginkan harta itu. Dorongan demikian juga kita dapatkan dari sabda Rasulullah saw.:

«مَنْ نَفِسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفِسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ, وَ مَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعَسِّرٍ يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَ اْلآخِرَةِ, وَ اللهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيْهِ .. »

Siapa saja yang menghalangi satu kesulitan dari seorang Mukmin di antara berbagai kesulitan dunia maka Allah akan menghalangi darinya satu kesulitan di antara berbagai kesulitan di hari kiamat. Siapa saja yang memberi kemudahan kepada orang yang kesempitan maka Allah akan memberi kemudahan kepadanya di dunia dan di akhirat. Allah akan menolong hambanya selama hamba menolong saudaranya. (HR Muslim).

Islam juga mendorong setiap Muslim agar berusaha mencari penghidupan. Rasul saw. bersabda:

«مَا أَكَلَ اََحَدٌ طَعَامًا خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ … »

Tidaklah seseorang memakan makanan lebih baik dari memakan makanan hasil kerja tangannya sendiri. (HR Ahmad).

«مَنْ بَاتَ كَالاً مِنْ طَلَبِ الْحَلاَلِ بَاتَ مَغْفُوْرًا لَهُ»

Siapa saja yang tidur kelelahan karena mencari (rejeki) yang halal maka ia tidur dengan mendapat ampunan. (Hadis dari Anas disahihkan oleh Ibn ‘Asâkir).

Dalam hadis lain, Rasul menyatakan bahwa terdapat dosa yang tidak bisa dihapus dengan ibadah shalat dan puasa dan hanya dapat dihapus dengan bekerja mencari nafkah. Semua itu memberi dorongan besar bagi kaum Muslim untuk berusaha dan berkreasi; baik dengan memproduksi, memberikan nilai tambah suatu produk, menyediakan jasa, melakukan aktivitas perdagangan ataupun yang lainnya yang dibolehkan oleh syariat. Hal ini berpengaruh besar bagi pertumbuhan jumlah, ragam, dan kualitas produk; juga berpengaruh besar dalam meningkatkan pendapatan masyarakat. Pengaruhnya akan sangat nyata dalam meningkatkan kemakmuran rakyat.

Pada sisi pengeluaran, Islam melarang praktek isrâf dan tabdzîr, yaitu membelanjakan harta untuk yang haram. Islam memandang pembelanjaan harta untuk yang haram tidak berpengaruh positif bagi masyarakat, tetapi justru berdampak negatif. Islam juga melarang sifat kikir, yaitu menahan diri dari pembelanjaan wajib. Dengan ini, Islam menjadikan semua pengeluaran ditujukan untuk melaksanakan infak wajib, sunnah, baru yang mubah. Pembelanjaan jenis inilah yang dipandang Islam baik bagi masyarakat. Hukum ini berdampak besar bagi kesejahteraan umat manusia. Jika kita hitung pembelanjaan haram di negeri ini sehari saja, (misal belanja narkoba, judi, transaksi mesum, dsb), jumlahnya mencapai miliaran rupiah. Bayangkan jika jumlah itu dibelanjakan untuk yang halal, bagaimana pengaruhnya terhadap perekonomian masyarakat.

Pengaruh Hukum-Hukum Sistem Ekonomi Islam

Hukum-hukum sistem ekonomi Islam mengatasi problem ekonomi, mewujudkan kemakmuran secara merata, serta menutup rapat semua pintu instabilitas dan kerusakan. Di antara hukum-hukum sistem ekonomi tersebut antara lain:

1. Hukum-hukum Mata Uang

Islam menetapkan mata uang Khilafah adalah emas dan perak atau dengan asas emas dan perak, baik dalam bentuk mata uang logamnya atau mata uang kertas yang di-back up dengan emas dan perak senilai uang kertas yang dikeluarkan (uang kertas substitusi). Uang kertas tersebut bisa dipertukarkan dengan emas dan perak secara langsung setiap saat tanpa pengurangan sedikitpun.

Sistem ini akan mewujudkan kestabilan nilai mata uang karena nilainya bersandar pada nilai intrinsik. Berbeda dengan mata uang flat money yang nilainya dijamin dengan undang-undang yang menyebabkan nilainya tidak stabil dan sangat rentan spekulasi. Ketidakstabilan nilai mata uang ini berpengaruh buruk bagi perekonomian, seperti yang menimpa mayoritas mata uang di dunia.

Ketidakstabilan mata uang juga sangat berbahaya karena dapat menyebabkan negara terjebak krisis seperti yang terjadi beberapa tahun terakhir. Apalagi ditambah dengan bunga utang. Akibat lain adalah penurunan nilai kekayaan yang dimiliki oleh masyarakat.

Selebihnya, sistem mata uang yang stabil akan menjadikan usaha, nilai tabungan, industri dan jenis-usaha lain terus tumbuh. Sebab, peningkatan pendapatan masyarakat akan dipakai untuk usaha produktif atau konsumsi sehingga terjadi pertukaran dan akan memutar roda perekonomian. Nilai mata uang yang stabil akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi karena uang negara tidak banyak tersedot untuk menstabilkan mata uang.

2. Pengharaman Riba

Riba sangat berbahaya bagi ekonomi internasional, kesejahteraan masyarakat luas dan individu, serta ekonomi secara umum. Bahaya riba antara lain, bahwa riba menghasilkan sekelompok orang hidup di atas penderitaan orang lain. Mereka tidak terlibat langsung dalam produksi bahkan bisa dikatakan tidak terlibat dalam perekonomian masyarakat. Mereka hanya menyimpan harta di lembaga-lembaga ribawi dan mendapat bunga tanpa berkurang hartanya sedikitpun. Lembaga ribawi menyalurkan harta sekelompok orang tersebut dalam bentuk kredit berbunga kepada individu atau lembaga lain untuk membiayai kegiatan investasi dalam bidang produksi maupun perdagangan. Dalam kondisi apapun lembaga debitor (pengutang) harus mengembalikan kredit (pokok dan bunganya), baik usahanya dalam kondisi impas atau bangkrut sekalipun. Jika ia tidak mampu membayarnya, bank atau lembaga kreditor akan menyita barang-barang atau kekayaan baik bergerak maupun tidak bergerak yang dijadikan agunan kredit.

Riba juga menjadikan sekelompok orang berkuasa dari segi usaha, harga, maupun kebijakan. Secara usaha, lembaga ribawi hanya akan memberikan kredit kepada lembaga atau individu yang dipercaya mampu mengembalikan kredit atau yang memiliki sejumlah harta yang diagunkan. Dengan demikian, hanya kaum the have yang dapat memanfaatkan kredit, dan lebih lanjut hanya merekalah yang layak memiliki usaha. Sebaliknya, orang tidak berpunya tidak mempunyai akses terhadap kredit dan tidak layak memiliki usaha. Dengan demikian, kekayaan akan berputar di antara kaum the have saja, dan kemiskinan terus menyelimuti kaum fakir dan tak berpunya.

Karena kepemilikannya akan pabrik dan usaha produktif lain, mereka dapat memaksakan tingkat harga dan tingkat upah sesuai dengan yang mereka kehendaki. Hal ini dijalankan dengan mekanisme yang canggih, misalnya melalui asosiasi. Demikian juga pemaksaan tingkat upah. Kaum buruh jelas sangat membutuhkan kerja. Karena banyaknya pengangguran, pengusaha dapat memaksakan tingkat upah kepada buruh, karena kalau tidak mau menerima tingkat upah yang ditawarkan, toh masih banyak pencari kerja lain yang bersedia dengan tingkat upah itu.

Para pemilik modal dapat mengendalikan kebijakan negara. Hal ini terjadi dengan cara memberikan “sumbangan” dana kampanye partai atau calon presiden dengan kompensasi kebijakan yang menguntungkan mereka. Ambil contoh, banyak perusahaan besar AS yang mendanai kampanya Bush dan Partai Republik, dengan imbalan, pemerintahan Bush menurunkan pajak bagi mereka dan membuka pasar di luar negeri, di antaranya melalui serangan ke Irak dan Afganistan.

Sistem riba menghalangi sebagian besar anggota masyarakat meraih kekayaan serta membagi masyarakat menjadi dua kelas: kelas atas yang dapat menikmati kemakmuran dan kelas bawah yang selalu dieksploitasi.

[]

Oleh Yahya ‘Abdurrahman (al-waie-37)

Iklan

Entry filed under: EKONOMI.

MENCETAK GENERASI UNGGULAN MENGAMBIL DAN MENGELOLA SUMBER KEUANGAN NEGARA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


JUNDULLAH 1924

mujahid
batang

Kategori

Desember 2008
S S R K J S M
    Jan »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Titian Wahyu :

titian-wahyu-4

Blog Stats

  • 19,667 hits

RSS INFO DARI HTI

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

PENDAPAT ANDA

BENDERA ISLAM (ar-Rayya)

arroya-berkibar-2
naruto-arroya2
naruto-arroya-61
naruto-arroya-5
nar-pin1
con-pin1a
pin-last-samurai-arroya
sas-pin3a

%d blogger menyukai ini: