Posts filed under ‘TSAQOFAH ISLAM’
DESAKRALISASI AL-QURAN (Gejala yang Harus Diwaspadai)
Al-Quran tentu merupakan sesuatu yang sangat sakral (suci) sekaligus agung. Kesucian dan keagungan al-Quran didasarkan pada kenyataan bahwa ia merupakan firman Allah (kalamullah), Tuhan Pencipta manusia dan seluruh alam ini. Ia tidak bisa dibandingkan dengan ‘kalam’ manusia, betapapun tingginya kualitas ‘kalam’ manusia itu, dan betapapun ia berasal dari manusia yang paling agung sekalipun. Kenyataan ini sangat disadari oleh generasi Muslim awal, baik dari kalangan para sahabat, tâbi‘în, maupun tâbi‘ at-tâbi‘în. (lagi…)
KEKERASAN DALAM TIMBANGAN SYARIAT
Di tengah banyaknya aksi kekerasan saat ini, mendudukkan penggunaan kekerasan secara syar‘î—mana yang absah dan mana yang tidak—penting dikedepankan agar dapat dilahirkan sikap yang benar. Kekerasan pada saat ini dilakukan dalam berbagai perspektif: Pertama, dalam rangka merespon serangan musuh; kedua dalam rangka menghilangkan kemungkaran (izâlah al-munkar) atau (lagi…)
POLITIK PERINDUSTRIAN ISLAM
Di negeri-negeri Muslim seperti Indonesia, ada beberapa persoalan perindustrian yang sering terangkat ke permukaan. Persoalan-persoalan ini dapat dikelompokkan dalam tiga besar: Pertama, teori bahwa perindustrian adalah kunci pertumbuhan ekonomi karena dianggap mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. Namun di sisi lain, hal ini juga menyimpan risiko pada saat krisis ekonomi, seperti tampak dari kasus-kasus perburuhan akibat rasionalis (lagi…)
MEMBAIAH KHALIFAH TANPA PENERAPAN SYARIAH
Tanya : Teman dialog saya pernah menyampaikan bahwasannya dia mengaku sudah membai’at atau memiliki khalifah. Meskipun, ketika saya tanya, mana wilayahnya, militer, dsb. Dia menjawab belum ada dan lagi diusahakan. Karena menurut dia, yang penting adalah membai’at atau mengangkat khalifah dulu, soal perangkatnya (wilayah, militer, dll) menyusul. Jika harus nunggu militer dan wilayah dulu ada, maka akan terlalu lama. Keburu nanti jika mati, maka matinya terkategori mati jahiliyyah. Jadi angkat dulu khalifah meskipun belum ideal (bisa dikatakan khalifah darurat). Menurut dia lagi, pemahaman di atas berangkat dari hadits rasul SAW “Barang siapa yang mati dalam kondisi tidak berba’iat kepada khalifah maka matinya mati jahiliyyah”. Pertanyaan saya : 1. Benarkah pemahaman teman dialog saya tadi diatas, yang penting “person khalifah” dulu, bukan “wilayah atau kekuasaan” ? 2. Bagaimana penjelasan soal hadits yang dijadikan dalil oleh teman dialog saya tadi ? Mohon ustad berkenan untuk menjawabnya (Amin, Purbalingga)
Jawab : (lagi…)









Komentar anda